Kamu sudah memiliki datanya. Masalahnya adalah, seringkali, kamu melihat data yang salah dengan cara yang salah.
Jika Anda mengelola sebuah UKM, kemungkinan besar setiap bulan Anda membuka file Excel yang diekspor dari sistem manajemen, memeriksa total omzet, membandingkannya dengan bulan sebelumnya atau dengan periode yang sama tahun lalu, dan mencoba memahami apakah “bisnisnya berjalan lancar”. Hal itu wajar. Itulah juga alasan mengapa banyak perusahaan memiliki banyak data namun hanya sedikit keputusan yang benar-benar tepat.
Intinya begini. Total omzet tidak menceritakan seluruh kisahnya. Terkadang justru menyembunyikannya. Sebuah bulan mungkin tampak baik karena totalnya naik, padahal di balik itu Anda justru lebih banyak menjual produk yang kurang menguntungkan, kehilangan frekuensi pembelian dari pelanggan setia, atau mendorong saluran yang justru menggerogoti margin alih-alih menciptakannya. Menurut Salesforce Italia, analisis data penjualan dimulai dari pengumpulan dan sentralisasi data dari berbagai sumber untuk mengubahnya menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti serta memantau secara real-time efektivitas, masalah, dan peluang.
Ketika kita mulai melakukan analisis data penjualan secara serius, kita tidak lagi sekadar menghitung apa yang telah terjadi, melainkan mulai memahami mengapa hal itu terjadi, ke arah mana bisnis ini bergerak, dan langkah apa yang sebaiknya diambil saat ini.
Jika saat ini Anda terutama memperhatikan total omzet, Anda tidak ketinggalan. Anda berada pada posisi yang sama dengan sebagian besar UMKM Italia.
Masalahnya muncul ketika angka tersebut menjadi satu-satunya sudut pandang yang kita gunakan untuk menilai perusahaan. Pendapatan membuat kita merasa tenang karena angka tersebut sederhana, langsung, dan sudah tidak asing lagi. Namun, angka tersebut juga terlalu terbatas untuk menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis yang serius. Angka tersebut tidak memberi tahu kita pelanggan mana yang mengalami penurunan, produk mana yang mengikis margin, bidang mana yang benar-benar mengalami peningkatan, dan saluran mana yang hanya tampak berhasil.
Di Italia, langkah ini semakin penting karena analisis penjualan tidak lagi hanya tercantum dalam laporan akhir. Platform manajemen kini telah mengintegrasikan fungsi analisis operasional ke dalam pekerjaan sehari-hari. Microsoft Business Central, misalnya, memungkinkan pengguna menganalisis volume dan nilai transaksi dengan metode analisis dan filter dinamis langsung di dalam sistem, sebagaimana dijelaskan dalam dokumentasi mengenai analisis penjualan ad hoc.
Ketika sebuah perusahaan hanya melihat angka totalnya, ia mengambil keputusan bisnis berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Ketika perusahaan menganalisis data tersebut secara terperinci, barulah ia mulai memahami bisnis tersebut apa adanya.
Perbedaan antara memiliki data dan melakukan analisis data penjualan terletak di sinilah.

Laporan menjelaskan apa yang telah terjadi. Analisis berusaha menjelaskan mengapa hal itu terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan selanjutnya.
Jika kamu membaca “penjualan kami lebih tinggi daripada bulan lalu”, berarti kamu sedang membuat laporan. Sebaliknya, jika kamu bertanya pada diri sendiri: pelanggan mana yang meningkatkan nilai rata-rata transaksi, produk mana yang menghasilkan margin riil, dan saluran mana yang mendatangkan volume tetapi tidak menghasilkan laba, berarti kamu akhirnya sedang melakukan analisis.
Perbedaan ini semakin penting saat ini karena bisnis semakin tersebar di berbagai saluran. Berdasarkan laporan mengenai analisis ritel dan lintas saluran, ISTAT mencatat bahwa pada sektor ritel bulan November 2025, nilai penjualan daring meningkat dengan laju yang jauh lebih tinggi daripada total penjualan secara keseluruhan. Bagi sebuah UMKM, hal ini berarti satu hal yang sederhana. Jika Anda memisahkan toko fisik, e-commerce, CRM, dan persediaan, Anda hanya melihat sebagian kecil dari gambaran keseluruhan.
| Penampilan | Pelaporan (Penghitungan) | Analisis (Memahami) |
|---|---|---|
| Pertanyaan utama | Apa yang terjadi? | Mengapa hal itu terjadi? |
| Tinjauan data | Agregat | Dibagi berdasarkan pelanggan, produk, saluran, dan periode |
| Manfaat | Pengawasan pasca-pelaksanaan | Keputusan operasional |
| Waktu | Masa Lalu | Masa lalu, masa kini, dan arah masa depan |
| Hasil | Nomor atau tabel | Wawasan dan prioritas tindakan |
Untuk lebih memahami bagaimana dasbor membantu UMKM, cukup perhatikan hal berikut ini: laporan statis hanya menampilkan gambaran sekilas, sedangkan dasbor yang dirancang dengan baik menghubungkan berbagai informasi.
Kesalahan pertama adalah menganggap omzet sebagai KPI utama. Omzet memang penting, tetapi jika dilihat sendiri, omzet merupakan metrik yang tidak lengkap.
Yang lebih penting adalah sekumpulan indikator terbatas yang terkait dengan keputusan konkret:
Aturan praktis: jika sebuah angka tidak mengantarkanmu pada keputusan yang pasti, itu belum bisa disebut analisis.
Banyak UMKM yang berhenti terlalu dini. Mereka hanya melihat angka penjualan. Mereka membandingkan data dari bulan ke bulan. Mereka mengomentari selisihnya. Namun, analisis data penjualan baru dimulai ketika setiap angka dikaitkan dengan pertanyaan manajerial: memangkas, meningkatkan, memperbaiki, memposisikan ulang, atau mempertahankan.

Hal ini sering terjadi di perusahaan-perusahaan UKM Italia. Kita melihat total omzet, mengidentifikasi lini mana yang paling berpengaruh, dan menyimpulkan bahwa itulah yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Lalu kita menggali lebih dalam, dan gambaran yang muncul pun berubah.
Dalam sebuah kasus B2B yang kami tangani, produk yang dianggap sebagai motor penggerak perusahaan tersebut menghasilkan porsi penjualan yang signifikan. Masalahnya justru terletak di hal lain: diskon yang sering diberikan, biaya logistik yang tinggi, permintaan komersial yang terus-menerus, dan margin yang tipis pada setiap pesanan. Sebaliknya, lini produk sekunder—yang jauh lebih tidak mencolok dalam laporan bulanan—justru menghasilkan laba yang lebih besar per transaksi dan membutuhkan upaya operasional yang lebih sedikit.
Di sinilah letak perubahan pola pikir yang sesungguhnya. Menghitung penjualan berguna untuk membuat laporan. Memahami penjualan mana yang mendorong pertumbuhan perusahaan berguna untuk mengambil keputusan.
KPI yang dipilih akan menentukan arah perilaku komersial. Jika Anda hanya mengutamakan omzet, Anda akan mendorong peningkatan volume. Jika Anda juga mengukur margin per transaksi, Anda akan menjaga profitabilitas.
Dalam praktiknya, seorang pemilik usaha tidak memerlukan puluhan angka. Yang ia butuhkan hanyalah beberapa indikator yang terkait dengan keputusan konkret: harga, diskon, komposisi produk, prioritas komersial, dan investasi untuk akuisisi.
Yang paling sering saya gunakan di UKM yang memiliki jaringan penjualan, distributor, atau tim pemasaran internal adalah sebagai berikut:
Margin per transaksi
Ini adalah KPI yang membedakan pergerakan dari hasil. Dua pesanan dengan nilai yang sama dapat memberikan dampak yang sangat berbeda pada laporan laba rugi. Jika Anda tidak mengukurnya, Anda berisiko memprioritaskan produk, pelanggan, atau saluran yang menghabiskan kapasitas namun menghasilkan sedikit keuntungan.
Biaya Akuisisi Pelanggan (CAC)
Angka ini berguna untuk memahami berapa banyak yang Anda keluarkan untuk mendatangkan bisnis baru. Sebaiknya angka ini dianalisis berdasarkan saluran pemasaran dan, jika memungkinkan, berdasarkan segmen pelanggan. CAC yang tinggi tidak selalu menjadi masalah, tetapi akan menjadi masalah jika pelanggan jarang berbelanja, hanya berbelanja sekali, atau hanya berbelanja saat ada diskon.
Nilai Pelanggan Seumur Hidup (LTV)
Membantu menata kembali pengambilan keputusan bisnis. Seorang pelanggan yang awalnya berbelanja sedikit namun kemudian sering melakukan pembelian kembali bisa jadi lebih berharga daripada pelanggan yang memulai dengan pesanan besar lalu menghilang. Oleh karena itu, CAC dan LTV harus dianalisis secara bersamaan, bukan secara terpisah.
Churn
Mengukur kehilangan basis pelanggan atau frekuensi pembelian ulang. Di banyak UKM, tingkat churn tidak dihitung secara formal, tetapi sudah dapat terlihat dari tanda-tanda sederhana: pelanggan yang memperpanjang jarak waktu antara satu pesanan dan pesanan berikutnya, penurunan variasi produk yang dibeli, serta penurunan nilai rata-rata transaksi. Jika kita mengabaikan tanda-tanda ini, omzet tampak stabil hingga masalah tersebut sudah semakin parah.
Tingkat konversi yang dianalisis bersama dengan perilaku bisnis
Angka itu sendiri tidak banyak berguna. Analisis kinerja penjualan akan lebih baik jika KPI dihubungkan dengan perilaku pelanggan dan tim penjualan. Jika tingkat konversi menurun, perlu dipahami di mana letak kendalanya: prospek yang kurang berkualitas, penawaran yang lemah, waktu respons yang lama, atau negosiasi yang terhenti pada masalah harga. Mercuri pun menekankan hal ini dalam analisis tren penjualan: data menjadi berguna ketika dapat mengarah pada perbaikan operasional.
Untuk mengaitkan indikator-indikator ini, ada baiknya kita mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana: keputusan apa yang akan berubah jika KPI ini memburuk atau membaik?
| KPI | Pertanyaan yang membantu menyelesaikan masalah |
|---|---|
| Margin per transaksi | Dari pesanan, pelanggan, atau lini bisnis mana sebenarnya kita memperoleh keuntungan? |
| CAC | Apakah kita membayar terlalu mahal untuk mendapatkan pendapatan baru? |
| LTV | Apakah pelanggan ini akan membuahkan hasil dari upaya pemasaran tersebut seiring berjalannya waktu? |
| Tingkat Pengunduran Diri | Di mana kita kehilangan nilai yang telah dibangun? |
| Konversi | Apakah masalahnya terletak pada penargetan, penawaran, proses, atau penjualan? |
Inilah poin yang meningkatkan kualitas analisis. KPI tidak hanya sekadar mendeskripsikan. KPI harus mendorong tindakan.
Jika Anda ingin membuat indikator-indikator ini berdasarkan data yang sudah Anda miliki, tanpa harus menunggu proyek perangkat lunak yang lebih besar, panduan di ELECTE tentang KPI di Excel dapat membantu Anda.
Selain itu, ada satu aspek yang sering kali diremehkan di perusahaan UKM. Penjualan tidak hanya bergantung pada daftar harga dan negosiasi, tetapi juga pada alat-alat yang digunakan tenaga penjualan di lapangan: materi pendukung, perlengkapan, sampel produk, barang promosi, serta perlengkapan untuk pameran atau kunjungan ke klien. Jika Anda ingin mengukur hasil dari kegiatan-kegiatan ini dengan lebih baik, panduan strategis mengenai barang-barang yang dipersonalisasi ini juga dapat membantu Anda, terutama jika tujuannya adalah menghubungkan alat-alat penjualan dengan hasil yang dicapai, bukan hanya sekadar omzet.
Dalam file Excel, total bulanan mungkin tampak bagus. Namun, setelah kita perhatikan lebih seksama, kita menemukan bahwa sebagian dari omzet berasal dari pelanggan yang meminta diskon besar, berbelanja secara tidak teratur, dan menghabiskan banyak waktu tim penjualan. Di sinilah kita berhenti sekadar menghitung penjualan dan mulai memahami bisnis ini.
Inilah gunanya segmentasi. Memisahkan apa yang menghasilkan pendapatan dari apa yang menghasilkan margin, apa yang tumbuh dari apa yang menghabiskan sumber daya, serta apa yang tampak menjanjikan dari apa yang benar-benar bertahan dalam jangka panjang.
Ketika kita menganalisis penjualan, biasanya muncul empat temuan yang berguna:
Bagi sebuah UKM Italia, perubahan ini memengaruhi pengambilan keputusan. Jika seorang agen menghasilkan omzet yang besar namun berasal dari pesanan dengan margin rendah, intinya bukanlah “menjual sedikit atau banyak”. Intinya adalah apakah komposisi penjualan tersebut benar-benar mendukung perusahaan. Jika bisnis e-commerce tumbuh namun membutuhkan diskon yang sering dan menimbulkan lebih banyak layanan purna jual, hal itu harus dinilai berdasarkan kontribusi ekonomi yang sesungguhnya, bukan berdasarkan volume.
Segmentasi yang dilakukan dengan baik membantu menentukan di mana harus mengalokasikan waktu, diskon, stok, dan perhatian tim penjualan.
Segmentasi hanya dapat dilakukan jika didasarkan pada basis data yang andal. Bagi banyak UMKM, hal ini merupakan masalah krusial, karena data sering kali tersebar di berbagai sistem, seperti sistem manajemen, CRM, e-commerce, dan file Excel yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Masalah yang sering muncul selalu sama:
Jika dasarnya tidak akurat, grafik tidak akan memperbaiki keputusan. Grafik hanya membuatnya tampak lebih rapi.
Sebelum menganalisis segmen-segmen tersebut, sebaiknya lakukan tiga pemeriksaan sederhana: data identitas yang selaras, kode produk yang konsisten, serta aturan yang jelas dalam mengalokasikan pendapatan dan biaya. Ini bukanlah pekerjaan yang rumit. Langkah ini mencegah pemberian insentif kepada pelanggan yang salah, mempromosikan produk yang salah, atau mempertahankan saluran yang justru mengikis margin keuntungan.
Setelah dasar-dasarnya ditetapkan, segmentasi hanya akan berguna jika menghasilkan keputusan yang konkret.
Berikut ini salah satu cara praktisnya:
Identifikasi di mana nilai terkonsentrasi
Tidak cukup hanya bertanya siapa yang berkontribusi terhadap omzet. Perlu dipahami siapa yang menghasilkan margin, keberlanjutan, dan kualitas portofolio.
Pisahkan volume dan profitabilitas
Produk terlaris belum tentu yang paling menguntungkan untuk dipromosikan. Hal yang sama berlaku untuk pelanggan dan saluran penjualan.
Perhatikan arah perkembangannya, bukan hanya gambaran saat ini
Sebuah segmen harus dinilai dari perspektif jangka panjang. Apakah pertumbuhannya baik, melambat, kinerjanya menurun dalam komposisi keseluruhan, atau biayanya semakin mahal untuk dilayani?
Ubah setiap bukti menjadi keputusan
Lebih fokus pada pelanggan dengan margin tinggi, tinjau kembali daftar harga untuk lini produk yang kurang laku, kurangi diskon di saluran yang mengikis nilai, serta tetapkan target penjualan yang didasarkan pada margin, bukan hanya pada omzet.
Inilah langkah yang membuat analisis menjadi lebih matang. Kami tidak tertarik untuk memiliki lebih banyak tabel. Yang menjadi fokus kami adalah memahami penjualan mana yang layak dipertahankan, mana yang perlu ditingkatkan, dan mana yang perlu dievaluasi ulang sebelum omzet menyembunyikan masalah profitabilitas.

Di perusahaan UKM Italia, masalahnya jarang terletak pada kurangnya data. Masalahnya adalah angka-angka tersebut tersebar di berbagai sistem, seperti sistem manajemen, CRM, e-commerce, POS, dan file Excel, sehingga pemilik usaha dapat melihat total omzet tetapi kesulitan memahami apa yang sebenarnya menghasilkan laba.
Metode yang efektif berguna untuk hal ini. Mengubah data yang tersebar menjadi keputusan yang praktis.
Secara praktis, urutan kerjanya adalah sebagai berikut:
Pengumpulan data terpusat
Kami mengumpulkan pesanan, pelanggan, produk, diskon, biaya, dan saluran penjualan ke dalam satu sistem terpadu. Jika sumber data tetap terpisah, perbandingan antar periode, wilayah, atau lini produk menjadi kurang dapat diandalkan.
Pembersihan dan normalisasi
Kode ganda, data identitas yang ditulis dengan cara berbeda-beda, tanggal yang tidak konsisten, biaya yang tidak tercantum. Ini adalah kesalahan umum. Jika tidak diperbaiki terlebih dahulu, margin per transaksi atau per pelanggan pun menjadi menyesatkan.
Analisis deskriptif
Di sini kami menganalisis apa yang telah terjadi. Tidak hanya seberapa banyak yang telah kami jual, tetapi juga ke mana pergeseran komposisi penjualan terjadi, pelanggan mana yang membeli dengan diskon besar, produk mana yang menghasilkan volume penjualan tinggi, dan produk mana yang menjaga margin.
Analisis diagnostik dan prediktif
Pada tahap ini, kita mulai mencari penyebab dan indikator yang berguna. Data historis, regresi sederhana, pengelompokan pelanggan, perbandingan antar-kelompok, serta analisis musiman. Tidak selalu diperlukan rumus yang rumit. Yang dibutuhkan adalah metode yang dapat membantu kita memprediksi fluktuasi permintaan, penurunan margin, atau peluang cross-sell yang kredibel.
Interpretasi operasional
Analisis ini berlaku ketika terjadi perubahan dalam suatu keputusan. Harga, diskon, ragam produk, prioritas komersial, persediaan, dan sasaran jaringan penjualan.
Inilah intinya. Banyak perusahaan hanya sampai pada tahap laporan dan berhenti di situ. Kita harus sampai pada tahap pengambilan keputusan.
Bagi sebuah UMKM, lompatan kualitas tidak berasal dari alat yang canggih. Lompatan kualitas itu berasal dari pertanyaan yang diajukan dengan tepat.
Jika kita hanya bertanya, “Berapa omzet yang kita raih?”, kita hanya akan mendapatkan laporan. Namun, jika kita bertanya, “Penjualan mana yang memberikan margin terbesar, kepada pelanggan mana, melalui saluran mana, dan seberapa sering?”, barulah kita mulai memahami bisnis ini.
Seri data historis yang rapi, yang dianalisis dengan mempertimbangkan tren dan pola musiman, sering kali memberikan petunjuk yang lebih berguna daripada model canggih yang dibangun berdasarkan data yang tidak konsisten. Hal ini terutama berlaku ketika perusahaan harus mengambil keputusan dengan cepat dan menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut kepada bagian penjualan, pembelian, dan administrasi.
Model yang dipahami dan diterapkan oleh manajemen lebih berharga daripada model yang sulit dijelaskan dan tidak mungkin diterapkan.
Dalam praktiknya, sebaiknya dimulai dengan teknik-teknik yang dapat dipertahankan oleh tim dalam jangka panjang: perbandingan untuk periode yang sejenis, analisis variasi, margin per pesanan, segmen pelanggan, serta produk dengan perputaran tinggi versus produk dengan profitabilitas tinggi. Kemudian, jika fondasinya kokoh, barulah ditambahkan alat-alat yang lebih canggih.
Hal ini sangat penting. Analisis yang bermanfaat tidak harus sekadar mengesankan. Analisis tersebut harus membantu Anda mengambil keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan dengan lebih sedikit kesalahan.
Untuk merencanakan persediaan, anggaran, dan kapasitas penjualan, tidak cukup hanya melihat ke kaca spion. Diperlukan proyeksi yang terperinci.

Perkiraan tidak memerlukan seorang data scientist internal. Yang dibutuhkan adalah kedisiplinan dalam mengelola data dan pertanyaan yang jelas.
Peta jalan yang sederhana bisa seperti ini:
Gunakan rangkaian data historis yang tepat
. Gunakan rentang waktu yang cukup panjang agar tren dan pola musiman dapat terlihat jelas.
Pisahkan tingkat analisis
Jangan hanya membuat perkiraan untuk total perusahaan. Buatlah perkiraan setidaknya berdasarkan lini produk, saluran, atau wilayah jika segmen-segmen ini memiliki logika yang berbeda.
Bersihkan terlebih dahulu sebelum melakukan proyeksi
. Jika dalam riwayat terdapat kesalahan atau peristiwa luar biasa yang tidak teridentifikasi, perkiraan tersebut akan mewarisi gangguan tersebut.
Bekerjalah berdasarkan skenario
Tidak perlu mengharapkan kepastian mutlak. Yang diperlukan adalah mempertimbangkan rentang kemungkinan yang masuk akal dan mengambil keputusan yang tangguh.
Perbarui prakiraan secara berkala
Prakiraan yang bermanfaat adalah prakiraan yang terus diperbarui. Prakiraan tidak disusun sekali saja sesuai anggaran lalu dilupakan begitu saja.
Dalam praktiknya, model-model yang berguna bagi UKM memenuhi kebutuhan yang sangat konkret.
Trend Tracker membantu menganalisis tren dasar jangka panjang.
Season Sense berguna ketika faktor musiman memengaruhi permintaan pada bulan atau minggu tertentu.
Smooth Forecaster menyaring gangguan pada deret data yang sangat fluktuatif.
Growth Accelerator cocok digunakan ketika suatu tren memasuki fase pertumbuhan nonlinier.
Smart Predictor secara otomatis memilih model yang paling sesuai berdasarkan tingkat kesesuaiannya.
Di sini, teknologi berguna jika membuat perkiraan menjadi mudah dipahami, bukan justru membuatnya menjadi misterius. Dalam konteks ini juga termasuk platform seperti solusi perkiraan penjualan, yang mengotomatiskan analisis data historis dan proyeksi tanpa memerlukan keahlian teknis khusus.
Perkiraan yang disusun dengan baik tidak akan memberi tahu masa depan dengan pasti. Perkiraan tersebut memungkinkan Anda untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik. Dan hal ini, bagi sebuah UMKM, sudah merupakan perubahan yang sangat besar.

Di perusahaan UKM, hambatan yang dihadapi hampir tidak pernah bersifat teknis. Hambatan tersebut bersifat organisasional. Proyek sering ditunda karena terlihat seperti proyek besar, padahal langkah awalnya jauh lebih sederhana.
Yang benar-benar berhasil adalah ini:
Ketika proses ini menjadi bagian dari rutinitas, analisis data penjualan tidak lagi sekadar kegiatan sesekali, melainkan menjadi kebiasaan dalam manajemen.
Titik krusialnya bukanlah saat file tersebut dimuat. Titik krusialnya adalah saat pihak manajemen menyadari bahwa data tersebut dapat menceritakan kisah yang berbeda dari yang mereka bayangkan.
Di situlah keputusan terkait katalog, penetapan harga, promosi, prioritas komersial, dan retensi pelanggan ditentukan.
Oleh karena itu, analisis tidak boleh dianggap sekadar tugas teknis yang diserahkan kepada seseorang yang “mahir menggunakan Excel”. Analisis harus dipandang sebagai perubahan pola pikir. Jika kita terus mengelola perusahaan dengan hanya memandang total omzet, kita sama saja mengemudi dengan kaca depan yang berkabut. Sebaliknya, jika kita membangun proses yang sederhana, teratur, dan mudah dipahami, data akan menjadi bagian konkret dari cara kita mengambil keputusan.
Kami memulai dari situasi yang sangat umum. Sebuah file Excel, total omzet, beberapa perbandingan bulan ke bulan, dan banyak keputusan yang masih diambil “secara kasar”.
Langkah yang sesungguhnya bukanlah menggunakan bahasa yang lebih teknis. Melainkan mengubah pertanyaan. Bukan lagi sekadar “berapa banyak yang telah kita jual?”, melainkan “di mana kita menghasilkan keuntungan?”, “pelanggan mana yang perilakunya sedang berubah?”, “produk mana yang layak mendapat perhatian?”, “apa yang ditunjukkan oleh data historis mengenai periode mendatang?”.
Ketika kita mulai menganalisis data penjualan dengan cara ini, bisnis menjadi lebih mudah dipahami. Dan ketika bisnis lebih mudah dipahami, keputusan yang diambil pun menjadi kurang didasarkan pada insting dan lebih kokoh. Biaya akibat tidak melakukannya jarang tercantum dalam satu baris laporan keuangan. Hal itu terlihat dari peluang yang terlewatkan, pelanggan yang hilang padahal bisa dipertahankan, serta investasi komersial yang didorong berdasarkan metrik yang salah.
Saat ini, pendekatan ini juga dapat diakses oleh UMKM. Tidak perlu membentuk divisi ilmu data. Yang perlu dilakukan adalah memperlakukan data yang sudah Anda miliki dengan serius.
Jika Anda ingin mengubah data ekspor dari sistem manajemen, file Excel, dan data komersial menjadi wawasan yang mudah dipahami serta perkiraan operasional, Anda dapat melihat cara kerja ELECTE, platform analisis data berbasis AI yang dirancang untuk membantu UMKM beralih dari pelaporan ke pengambilan keputusan.